Surat guru-guru Samosir yang dimutasi Bupati

Pangururan, Samosir, Sumatera Utara — Perjuangan sejumlah guru yang didukung oleh warga desa di Kabupaten Samosir terhadap keputusan Bupati Samosir Mangindar Simbolon yang memutasi mereka pada 20 Juli 2011 lalu mulai kandas. Aksi demo, air mata, dan sejumlah surat keberatan mereka hanya mampu mendesak DPRD Samosir untuk membentuk pansus.

KoranTapanuli.com | Berita Hayun Gultom

Foto guru Kabupaten Samosir

Guru menyampaikan keluhan di DPRD Samosir. Foto Hayun Gultom

Namun pansus DPRD Kabupaten Samosir itu hingga saat ini belum menunjukkan hasil sesuai tuntutan guru-guru yang kecewa karena dimutasi. Walapun para anggota Pansus Mutasi sudah menerima SPPD perjalanan mereka selama pansus, tapi hasil berupa rekomendasi DPRD belum juga ada.

Dalam aspirasi guru soal pemutasian di Kabupaten Samosir yang disampaikan kepada DPRD Samosir pada September 2011 tercantum sejumlah keluhan guru yang dituliskan dalam berlembar-lembar surat. Berikut petikan dari sebagian isi surat guru Samosir itu.

Rudin Malau — Guru kelahiran 1962 ini merasa keberatan dimutasi karena kondisi kesehatannya. Isterinya juga sudah sering sakit. Keluhannya, ia tidak tahan untuk tinggal di daerah yang terlalu dingin. “DPRD kiranya dapat membantu saya untuk menyampaikan aspirasi, sehingga SK mutasi saya dapat direvisi ulang kembali.”

Gomok Malau — Lokasi kerjanya yang baru tidak dapat ia jangkau untuk bisa pulang pergi setiap hari. Isterinya juga dimutasi, jarak tempat kerja mereka terlalu jauh, sehingga harus berpisah tempat tinggal karena mutasi. Terlalu jauh untuk pulang pergi setiap pagi karena tempat tugas dengan isteri tidak searah.

Dekarina Simanjuntak — Sudah bertugas selama 17 tahun sebagai guru di Desa Salaon Toba, Kecamatan Ronggur Nihuta, sejak sebelum Samosir jadi kabupaten. Jika harus pindah karena dimutasi maka ia tidak bisa lagi menambah penghasilannya dari bertani di lahan yang diberikan warga di tempat kerjanya yang lama. Karena di tempat yang baru ia belum tentu mendapat lahan untuk bertani. Sementara gajinya sebagai guru tidak cukup untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang sudah kuliah. “Mutasi oleh Pemerintah Kabupaten Samosir bertujuan untuk memisahkan keluarga, bukan untuk menyatukan.”

Maringan Rajagukguk — Guru mata pelajaran matematika. Maringan dikenal warga sebagai guru yag sudah membawa murid-muridnya meraih prestasi. Sehingga warga membuat surat keberatan kepada DPRD Samosir agar Maringan tidak dipindahkan. Ke-44 warga itu tidak hanya orang tua murid, tetapi dari berbagai kalangan. Kepala desa, tokoh masyarakat, pekerja PLN, wiraswasta, dan selebihnya petani. Kutipan surat warga itu:

Kami masyarakat Sianjur Mulamula sangat kecewa atas mutasi kepada guru anak kami yang bernama di atas (Maringan Rajagulguk). Yang kami ketahui tentang guru tersebut mempunyai tanggung jawab besar terhadap anak kami. Selalu mengajar dengan kasih sayang serta memperhatikan kekurangan dan kenakalan anak-anak kami. Dengan hormat kami orang tua Sianjur Mulamula meminta supaya bapak DPRD Samosir mengembalikan guru anak-anak kami ke SMP N1 Sianjur Mulamula.

Roni Simarmata — Dimutasi dari SD Hutaginjang ke SD Bahalbahal. Ia keberatan dimutasi karena alat transportasi yang terbatas. Jika harus mengikuti mutasi, maka ia harus berpisah dengan keluarga. “Pemutasian kurang tepat sasaran, sampai memisahkan anak dan suami.” Ia menganggap pemutasian sudah termasuk pembunuhan secara tidak langsung. “Bagaimana lagi saya mengurusi anak-anak saya yang sudah bersekolah.” Sebanyak 80 orang warga desa juga memberikan surat rasa keberatan yang bertandatangan kepada DPRD karena Roni Simarmata dimutasi.

Marisi Limbong — Yang satu ini adalah guru yang paling merasa tersakiti karena mutasi. Selain dimutasi, Marisi Limbong juga mendapat teguran, disebabkan beberapa kali ia tidak bisa mengajar karena sakit. Meskipun menujukkan surat sakit dari dokter, namun tidak cukup sebagai alasan atas ketidakhadirannya mengajar di sekolah. Setelah dimutasi ia semakin tidak mampu menjangkau tempat kerjanya, sampai akhirnya pangkatnya diturunkan. Marisi menganggap mutasi telah membunuhnya pelan-pelan. Saat menyampaikan aspirasi bersama beberapa temannya guru yang dimutasi, Marisi Limbong sempat pingsan di kantor DPRD Samosir, karena kondisi fisiknya yang lemah. “Saya sangat keberatan atas putusan yang dijatuhkan kepada saya oleh Bupati Samosir, tanpa ada pertimbangan yang adil dan tidak manusiawi, sesuai dengan pelanggaran-pelanggaran yang lebih parah dan lebih bobrok (oleh guru lain), seperti pemalsuan tanda tangan, korupsi waktu, rekayasa administrasi.”

Rosenti Munthe — Salah satu rasa keberatannya dimutasi karena ia sedang dalam kondisi hamil. Suaminya juga adalah PNS. Rosenti dimutasi ke tempat yang berbeda kecamatan dan terlalu jauh untuk dijangkau. “Kesehatan fisik saya sangat lemah, saya ingin suami di dekat saya untuk mengurus saya.”

Puluhan guru lainnya rata-rata menyampaikan keluhan yang sama, yaitu jarak yang terlalu jauh, kondisi kesehatan, dan masalah keluarga.

Bupati Samosir Ir. Mangindar Simbolon pada perayaan hari jadi Kabupaten Samosir dua hari lalu mengatakan, untuk meningkatkan kompetensi guru dan mutu pendidikan, maka “pemerataan masih akan terus dilakukan walaupun ada yang harus kecewa.”

Klik Share atau Tweet untuk berbagi di akun sosial anda
Hak cipta ©2012 KoranTapanuli.com. Berita ini hanya dapat dikutip ke media cetak, radio, blog, dll., dengan tautan-balik/penyebutan sumber (baca ketentuan). Ikuti via Twitter apa yang sedang kami liput di Tapanuli.

Tulis komentar anda

XHTML Format teks jika perlu <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tulis komentar hanya terkait berita. KETENTUAN OPINI PEMBACA.



Komentar Pembaca

  1. Kasihan guru guru di samosir. Setelah dimutasi dengan tak berperasaan dan tidak adil, diangkat pula Adeknya menjadi Kadis pendidikan untuk menindas para guru.

     — 
  2. Harusnya Pak Bupati jangan ada sentimen dong, walaupun mereka tidak memilih dalam Pilkada.. Jadilah pemimpin yang bijaksana. Awas ada Buiii nantinya…

     — 
  3. Dasar orang tidak punya hati nurani

     — 
  4. more workshop!

     — 
  5. Setelah membaca surat para guru yang dimutasi, saya ikut prihatin. Untuk meningkatkan kompetensi guru dan mutu pendidikan, mengapa dengan cara memutasi, apakah tidak lebih baik dengan cara memberikan pelatihan kepada guru-guru yang ada di setiap daerah?

     — 
More in Kabupaten Samosir (46 of 67 articles)