Pacaran dengan PNS, melahirkan tanpa nikah

Ia tidak sempat memberi nama buat anaknya yang lahir 9 Oktober 2011 di rumah kontrakan di Pangururan, Kabupaten Samosir, bahkan menggendongnya pun tidak sempat. Ia merahasiakan kelahiran anaknya itu. Sebut saja nama samaran ibu muda ini sebagai Yesi (24), perempuan berdarah Batak. Sekarang ia berjuang hidup sendiri, dan merasa sudah diasingkan oleh keluarga.

KoranTapanuli.com | Pangururan, Kabupaten Samosir | Berita Hayun Gultom

Ibunya tidak setuju, lalu meminta supaya bayi Yesi digugurkan. Karena putrinya itu belum resmi menikah dengan pacarnya, seorang pegawai negeri sipil (PNS), sebut saja namanya Naga, walau mereka sudah tinggal serumah. Tapi sepengetahuan keluarga Yesi, bayinya itu sudah digugurkan.

Saat mengandung enam bulan, Yesi dan Naga tidak lagi akur. Keluarga Naga membantah kehamilan Yesi adalah buah hubungannya dengan Naga. Tapi menurut Yesi, Naga tidak pernah mengatakan kepadanya kalau bayi dalam kandungannya itu bukan anaknya.

Saat dirinya hamil 3 sampai 5 bulan, menurut Yesi, Naga sering mengatakan “anak kita ini nanti laki-laki, ya!” Biasanya itu ia katakan sambil mengelus perut Yesi layaknya suami-istri.

Tapi setelah kehamilan Yesi sampai kepada pihak keluarga, mulailah prahara itu datang. Naga tidak lagi menemani Yesi sampai putrinya kemudian lahir.

Wiwi (nama samaran) adalah satu-satunya teman Yesi yang memahami kondisinya. Selain Wiwi dan bidan yang membantu kelahiran putri Yesi, tidak ada yang tahu bahwa ternyata Yesi melahirkan anak hasil hubungan cintanya dengan Naga.

Yesi tidak sempat mengenali wajah bayinya itu, karena satu minggu setelah lahir, temannya memberikan bayi itu kepada pengasuh atas persetujuan Yesi. Bahkan Yessi merasa bersyukur ada keluarga yang mau membesarkan bayinya.

Menurut Wiwi, keluarga yang mau mengasuh putri Yesi itu berdomisili tidak jauh dari Kabupaten Samosir. Namun dia tidak tahu persis di mana alamatnya. Saat itu ia hanya meninggalkan nomor handphone.

“Sekarang dia berusia tiga bulan, mudah-mudahan dia sehat. Kepingin melihatnya, tapi aku juga tidak tahu di mana tempat ibu keluarga yang mengasuh putriku itu. Kalau nanti dia besar, apakah dia akan mengenalku …,” kata Yesi dengan mata berkaca-kaca.

“Padahal dulu tahun 2010 saya datang ke Samosir karena dia (Naga). Kalau sekarang saya jadi begini (bekerja di tempat hiburan), ini karena terpaksa,” katanya.

Selama sebulan setelah anaknya lahir, Yesi mengaku depresi berat. Untung saja ada Wiwi yang sudah ia kenal dekat sebelum Yesi ke Kabupaten Samosir. Yesi tinggal bersama Wiwi di sebuah tempat hiburan malam di Samosir dan bekerja di sana setelah ia pulih benar.

“Kapan-kapanlah kita ketemu lagi, kami harus pulang, temanku sudah menelepon,” kata Yesi yang sore itu, di bulan Januari 2012, sedang bersama Wiwi di Pasir Putih, Pangururan. “Tapi jangan tulis namaku, ya!” katanya kepada Koran Tapanuli.

Klik Share atau Tweet untuk berbagi di akun sosial anda
Hak cipta ©2012 KoranTapanuli.com. Berita ini hanya dapat dikutip ke media cetak, radio, blog, dll., dengan tautan-balik/penyebutan sumber (baca ketentuan). Ikuti via Twitter apa yang sedang kami liput di Tapanuli.

Tulis komentar anda

XHTML Format teks jika perlu <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tulis komentar hanya terkait berita. KETENTUAN OPINI PEMBACA.



Komentar Pembaca

  1. Amangoiiii amang saonari ho Naga sonang sogot adongma panolsolipn nabolon diho,molo NISUAN TUBU,BARU DI TAPU ingotma nabinahenmon ito.hmmmm

     — 
  2. Lagi lagi PNS , tidak pernah bisa mempertanggung jawabkan apa akibat dari perbuatannya , mengjindar dan meninggalkan luka yang takkan pernah ada obatnya. Bertanggung jawablah kawan , jangan jadi pengecut , percuma kau jadi PNS kalau kau melarikan diri dari akibat perbuatanmu. Cuih……

     — 
More in Kabupaten Samosir (60 of 67 articles)