PNS Tobasa: So di ahu pe taho jabatan i
By
On 27 Januari 2012 At 00:33
Category : Kabupaten Toba Samosir
Tags : Balige, Pemkab Toba Samosir
Responses : 8 Comments
Rikardo Simamora (39) adalah contoh potret PNS Pemerintah Kabupaten Toba Samosir yang hidup bersahaja. Dia hanya mengendarai sepeda motor yang sudah kolot, Astrea Grand buatan 1994, dan tidak mau membeli jabatan dengan cara menyuap atasannya.
Dia memang baru menjadi pejabat level rendahan di Pemkab Toba Samosir, tapi dia merasa bangga karena tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk mengurus jabatannya.
“Sudah satu tahun inilah saya jadi pejabat eselon IV. Awalnya dulu sempat ada yang tanya, mau bicarakan uang, tapi saya tidak mau. So di ahu pe taho jabatan i anggo pakke hepeng do. Tapi akhirnya saya terima juga SK, waktu itu saya bangga juga dalam hati, tidak ada pakai uang,” kata Rikardo, Kepala Seksi Hubungan Legislatif dan Fasilitas Pemilu Kantor Kesbang Tobasa, saat ditemui wartawan di rumahnya di Balige.
Setiap bulan dia menerima gaji sekitar Rp2,7 juta. Uang segini cukup baginya untuk kehidupan sehari-hari bersama isteri dan tiga anak yang masih kecil, walau memang pas-pasan. Sebab itulah isterinya membuka warung rokok dan pulsa ponsel di depan rumah. Pada sore hingga malam hari, selepas bekerja di kantor, Rikardo meladeni pelanggan di lapo kopi yang menempel di sisi kiri rumahnya. Bangunan lapo yang terbuat dari papan ini memakan biaya Rp12 juta.
Dulu, lima tahun silam, dia pernah meminjam uang dari bank sebesar Rp20 juta untuk menambah biaya pembangunan rumahnya. Kredit itu telah lunas pada Juni 2010. “Cicilan per bulan sekitar Rp500 ribu. Cuma segitulah mampuku, makanya kuambil yang lima tahun, dan sudah lunas kemarin,” kata Rikardo Simamora.
Menurutnya, tidak ada masalah apabila seorang PNS mengagunkan SK pegawainya ke bank untuk memperoleh uang. Tetapi sebaiknya pinjaman bank hanya dipakai untuk kebutuhan-kebutuhan mendasar yang mendesak, bukan untuk membeli mobil apalagi menyuap demi jabatan.
Sehari-hari dia berangkat ke kantor dengan mengendarai sepeda motor lama buatan tahun 1994. Motornya ini langganan keluar-masuk bengkel karena sering rusak. Dia tidak punya mobil pribadi.
Selain Rikardo Simamora, wartawan koran ini juga mewawancarai seorang pejabat Pemkab Toba Samosir dengan pangkat lebih tinggi, eselon III, yang memiliki prinsip tegas tidak akan pernah mau memberikan uang demi meraih kursi jabatan. Lelaki ini, berinisial LS, sejak menjadi PNS telah aktif mencari penghasilan tambahan dengan beternak dan berkebun. Dulu sewaktu bertugas di Timor Timur, dia juga memiliki usaha jualan jajanan berkeliling dengan mobil.
Cara dia mendapatkan jabatan adalah dengan menunjukkan prestasi kerja, bukan dengan cari muka apalagi menyuap atasan. “Saya sengaja menunjukkan satu saja kelebihan dalam pekerjaan di kantor yang saya ketahui tidak dimiliki orang lain. Saya yakin bahwa akhirnya atasan akan memilih saya untuk jabatan itu,” katanya.
Kalau tiba-tiba dicopot dari jabatan karena tidak pernah menyetor ke atasan? “Ya, sudah, dicopot saja! Itulah yang saya sesalkan, masih banyak teman yang malu atau takut di-nonjob-kan. Bah, songoni ma jolo namangolu on! Memang sakit di Tobasa ini, sistemnya itu yang buat,” katanya.
(Arsip berita Jarar Siahaan dari Balige, Kabupaten Toba Samosir, terbit Juli 2010.)
| Tweet |







yaaah…. sebenarnya yang membuat jabatan itu dibeli dengan uang adalah PNS itu sendiri karena ybs takut kehilangan, namun bila seorang PNS melaksanakan tugas dengan baik, loyal dan penuh integritas Tuhan tidak pernah melupakan jemaatnya yang patuh, sabar dan setia. Salam buat lae Ricardo.
Siapa bilang jabatan tidak bisa di beli….!!!…baca dulu dong..!
Ricardo simamora telah membeli dengan memberi contoh bagi kita tentang bagaimana seorang PNS melayani dan menjalankan tugas yang diberikan negara kepadanya…membeli bukan dengan memberi duit pada negara atau rakyat tapi memberi contoh yang tidak bisa dinilai harganya…Tumbuh dan berkembanglah Ricardo-Ricardo yang lain…!!!!
Tetaplah tegar sahabatku yang pintar. Negri ini membutuhkan orang orang yg bermental baja seperti lae. tetaplah vokal, walupun profesi sudah konsonan (PNS)