Parrenggerengge Onan Baru Pangururan resah

Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara — Pasar tradisional terpadu Onan Baru di Pangururan, Kabupaten Samosir, telah selesai dibangun. Kini giliran pedagang akan menempati lapaknya masing-masing. Meskipun para parrenggerengge (pedagang pasar tradisional) itu adalah pedagang yang sudah memiliki tempat sebelum pasar diperbaiki atau direhab, tapi mereka tidak bisa menempati lapak pada posisi semula, karena harus melalui pengundian. Karena pasar  dibangun dengan pengelompokan janis dagangan, maka tidak mungkin hanya untuk mempertahankan tempat sehingga pedagang daging harus berdekatan dengan pedagang kain, misalnya, atau pedagang buah berdekatan dengan pedagang daging.

KoranTapanuli.com | Berita Hayun Gultom

parrenggerengge onan Pangururan

Parrenggerengge Pangururan mendengar sosialisasi. Foto Hayun Gultom

Sehingga untuk mulai menempati pasar, terlebih dahulu dilakukan sosialisasi kepada para pedagang. Hari pertama 23 Februari 2012 sosialisasi aturan Onan Baru dilakukan oleh pejabat Dinas Koperindag Kabupaten Samosir, Camat Pangururan, dan Bagian Perekonomian Kabupaten Samosir serta dua orang anggota DPRD. Kepada pedagang dijelaskan tempat-tempat bagi mereka sesuai jenis jualannya, di mana tempat dangan kering dan di mana tempat dagangan basah.

Seterusnya, berupa saran dan usulan dari pedagang. Seorang dari pedagang misop dan mi gomak mengusulkan agar tempat mereka tersedia air untuk mencuci piring dan saluran pembuangan yang lancar. Parbumbu (pedagang bumbu) berupa jahe, kunyit, cabe, andaliman, dan yang lainnya, mengatakan “lokasi untuk kami pedagang bumbu kurang luas, tidak ada tempat unutk mesin penggiling.”

Hal serupa juga disampaikan oleh pedagang kaki lima, seorang ibu yang mengaku boru Naibaho, mengeluhkan tempat jualan mereka yang terlalu sempit karena berada di tepi gang, berukuran 2 meter, sedangkan gang hanya berukuran 1 meter.

“Jika ada pembeli dan sedang memilih barang maka orang yang berjalan akan terganggu, atau sebaliknya pembeli yang terganggu. Barang dagangan saya setiap hari Rabu sebanyak 2 ton. Melihat ukuran lokasi yang diberikan untuk saya, tempat keranjang dan kilo pun tidak cukup,” katanya.

Satu dari pedagang ikan mujahir dan pora-pora menyampaikan usulannya. “Tempat kami berjualan yang paling penting ada air dan listrik. Karena di samping menjual ikan jahir dan pora-pora, kami juga menjual ikan mas. Sehingga ikan bisa tetap hidup.” Sementara parjagal (pedagang daging) hanya mengusulkan agar pedagang daging disatukan, jangan menempati tiap pintu gerbag.

Permintaan atau usulan paling sederhana adalah dari penjual pisang goreng dan penjual martabak. Salah seorang ibu yang sudah berumur kira-kira 55 tahun yang sudah puluhan tahun berjualan goreng mengatakan, “Molo hami pargoreng, termasuk ma pedagang kecil. Selama ini kami sering diusir-usir, dipindahkan ke sana, dipindahkan ke sini. Sebagai pedagang kecil,  jika nantinya sudah diberikan tempat, janganlah kiranya kami diusir-usir lagi.”

Meski dikatakan akan diundi untuk menentukan tempat, ada juga yang ngotot untuk menempati lapak semula, yaitu tempatnya ketika pasar belum diperbaiki atau direhab. Misanya ibu yang satu ini, pedagang piring (kelompok parpiring), meminta agar tempat ia berjualan tetap pada tempat semula sebelum pasar direnovasi dengan luasnya juga tetap seperti semula yakni 8 meter.

Ide dari seorang pedagang dan didukung oleh semua yang hadir datang dari seorang pedagang teh dan kopi.

“Kalau kami parkode tes, karena harus ada meja, rak steling, kursi, sehingga tempatnya agak luas. Dan sebaiknya kami pedagang teh manis dam kopi jangan berada di satu tempat, karena langganan kami adalah para pedagang yang di pasar ini juga. Sehingga lebih baik diacak, ada yang di timur, ada di barat.”

Parulos (pedagang ulos) meminta supaya berdekatan dengan pedagang kain. Tempatnya juga supaya lebih luas. “Kalau hanya satu lapak, kami sama saja dengan pedagang martabak.”

Ada juga pedagang yang hanya ia sendiri menjual satu jenis dagangan, yaitu pedagang ikan basah, ia meminta agar ia dikelompokkan dengan pedagang daging ayam.

Setelah usul demi usulan terjawab, panitia menentukan pencabutan nomor pada esok harinya, 24 Februari 2012, untuk kelompok dagangan kering. Para pedagang pun datang kembali ke pasar Pangururan untuk mengikuti dan melihat pencabutan nomor yang disebut panitia.

Mulai pagi terjadi perdebatan alot antara pedagang dengan panitia. Awalnya karena panitia mengatakan, siapa nanti yang namanya tidak tercantum dan tidak dipanggil maka tidak mendapat tempat. Akhirnya pedagang mengusulkan, sebelum pencabutan nomor dimulai agar terlebih dahulu diumumkan nama-nama yang sudah terdaftar. Sejumlah pedagang curiga ada pergantian daftar nama dari data sebelumnya. Perdebatan itu berlangsung hingga pukul 15.00.

Akhirnya panitia menempelkan daftar nama itu di salah satu dinding. Dinding itu spontan dikerumuni parrenggerengge untuk memastikan nama mereka. Ternyata ada ratusan nama pedagang yang tidak ada dalam daftar itu.

Parrenggerengge kelontong bermarga Limbong mengatakan, “Saya sudah tiga kali didata petugas, dan sudah berjualan di sini selama 15 tahun, tapi kenapa nama saya tidak ada di daftar? Ini pasti ada yang tidak beres dengan panitia.”

Atas desakan sejumlah parrenggerengge, pencabutan nomor pun ditunda. Panitia mengatakan akan dilaksanakan pada Kamis pekan mendatang setelah data dilengkapi. Pedagang semakin bingung setelah Camat Pangururan, Lumongga Panggabean, mengatakan, “Semua harus didata kembali, walaupun namanya ada dalam data yang sekarang, tidak jaminan untuk mendapatkan lapak. Hari Rabu mendatang dilakukan pendataan, pedagang supaya datang ke kantor Camat.”

Sosialisasi Onan Baru Pangururan pun berakhir. Beberapa pedagang mendekati panitia untuk memberikan fotokopi KTP mereka dan bertanya di mana mereka berjualan hari Rabu mendatang saat hari pekan di Pangururan. Panitia mengatakan, hari Rabu supaya mereka datang saja ke kantor Camat Pangururan.

Klik Share atau Tweet untuk berbagi di akun sosial anda
Hak cipta ©2012 KoranTapanuli.com. Berita ini hanya dapat dikutip ke media cetak, radio, blog, dll., dengan tautan-balik/penyebutan sumber (baca ketentuan). Ikuti via Twitter apa yang sedang kami liput di Tapanuli.

Tulis komentar anda

XHTML Format teks jika perlu <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tulis komentar hanya terkait berita. KETENTUAN OPINI PEMBACA.



Komentar Pembaca

  1. gbe rondot sude halak parrenggerengge samosir
    oh.tahe

     — 
  2. boasa gabe marsumberatan songon on ??????
    sian mulana boasa dang konfirmasi dohot angka partiga2 i…
    songon on ma aso sala. dung sae gabe marsitokkaran muse.
    oo tahe,halak hita…..

     — 
More in Kabupaten Samosir (50 of 67 articles)