Belantara kata-kata

By Jarar Siahaan
On 6 Februari 2012 At 20:00

Category : Opini Redaksi
Tags :

Responses : 2 Comments

Berita Lain


Bagaimana anda menyaring informasi yang layak dipercayai dari 555 juta lebih situs dan 2,1 miliar pengguna Internet di seluruh dunia? Di hutan rimba Internet, orang yang terlalu mudah percaya dan tidak berpikir kritis akan tersesat.

KoranTapanuli.com | Jarar Siahaan

Jarar SiahaanDi Facebook, Twitter, Google Plus, situs pribadi, atau forum portal-berita, anda mungkin pernah melihat orang-orang ribut mengomentari sebuah informasi atau berita menghebohkan padahal tidak jelas dari mana sumber berita tersebut.

Misalkan situs pribadi milik orang Indonesia menerbitkan ulang sebuah berita dari media luar negeri — tidak dijelaskan media apa dan tidak dibuatkan tautan ke sumber — berupa tulisan dan foto jasad seseorang yang (konon) digali kembali setelah dikuburkan beberapa jam sebelumnya. Ditulis dan terlihat pada foto itu: “Wajah dan tubuhnya rusak, membiru, mengeluarkan cairan, melepuh, padahal ketika dikuburkan beberapa jam lalu tidak seperti itu.” Pembaca pun heboh mengomentarinya. Ada yang menilai bahwa di masa hidupnya ia telah melakukan banyak dosa, sehingga begitu dimasukkan ke liang kubur, ia pun terkena azab Tuhan.

Seharusnya pembaca tidak serta-merta menerimanya sebagai fakta berita bahwa seseorang yang baru dikuburkan beberapa jam langsung “dirusak tubuhnya oleh Tuhan”. Sebab, si pengelola situs Indonesia itu tidak menyebutkan tautan ke media luar negeri yang menjadi sumber kutipannya. Bisa jadi foto itu direkayasa, atau fotonya asli tapi teks beritanya penuh dusta.

Berbeda halnya jika situs tersebut memasang tautan ke situs media yang dikutip, sehingga pembaca dapat melakukan verifikasi apakah isi kutipannya akurat atau telah dipelintir di sana-sini.

Saya juga melihat beberapa situs berbahasa Indonesia yang menyebut diri sebagai media pers online, termasuk Halaman mereka di Facebook, yang tidak jelas siapa pengelola dan penulisnya.

Pada halaman “about” atau “tentang kami” sama sekali tidak dicantumkan satu nama pun, kecuali hanya slogan seperti “situs ini memberitakan peristiwa aktual dan terpercaya”. Padahal media pers wajib menjelaskan siapa penanggung jawab konten situs dan alamat mereka. Pengelola situs pers tidak boleh anonim atau memakai nama samaran, karena pers berbeda dengan situs-situs pribadi atau situs pembocor dokumen Wikileaks.

Informasi di Internet berupa kutipan dari situs lain seperti contoh pertama di atas, menurut taksiran saya, lebih banyak jumlahnya ketimbang informasi orisinal yang digali oleh situs bersangkutan. Hal yang lumrah memang, dan itulah keunggulan Internet sebagai jaringan global — saling terkait, tertaut, tersebarkan, dan saling terhubung dengan bebas tanpa disekat oleh waktu dan tempat.

Tapi kebebasan yang tanpa batas dan tanpa sensor ini pun sangat rentan dengan penyebaran kabar bohong. Karena itulah publik mesti jeli memilih dan memilah situs mana yang pantas untuk dibaca.

Walau ada juga sebagian penulis anonim di Internet yang kredibel, tapi …

semakin kabur identitas seorang penulis, semakin mudah bagi dia untuk berbohong.

Menurut survei Netcraft, jumlah situs di seluruh dunia hingga Desember 2011 sebanyak 555.482.744. Sementara jumlah pemakai Internet sampai 31 Maret 2011 menurut data Internet World Stats adalah 2.095.006.005 orang — angka ini tentu sudah bertambah jika dicatat per Februari 2012.

Data tersebut belum termasuk bermiliar akun di jejaring sosial, 294 miliar email yang dikirim per hari (data tahun 2010 via Pingdom), 200 juta Tweet yang diterbitkan setiap hari oleh pemakai Twitter (data Agustus 2011 via Twitter), dua juta pencarian setiap menit yang diproses mesin Google (data Februari 2010 oleh ComScore via Search Engine Land), dan sebagainya.

Bermiliar halaman teks terbit dan dikirimkan setiap hari melalui Internet. Jika seluruh teks itu dibukukan, mungkin satu ruangan perpustakaan akan terpenuhi saban hari. Situs-situs Internet yang terlihat di laptop hanya seukuran buku, atau tampak di ponsel cuma seukuran bungkus rokok, menyimpan kata-kata yang tidak terhingga jumlahnya dan terus bertambah setiap detik.

Hutan belantara kata-kata di Internet ini akan bermanfaat bagi orang-orang yang cerdik menyaring sebelum mempercayai. Sebaliknya, bermudarat bahkan bisa merugikan bagi orang-orang yang membaca teks Internet selayaknya membaca Sepuluh Perintah Tuhan.

Klik Share atau Tweet untuk berbagi di akun sosial anda
Hak cipta ©2012 KoranTapanuli.com. Berita ini hanya dapat dikutip ke media cetak, radio, blog, dll., dengan tautan-balik/penyebutan sumber (baca ketentuan). Ikuti via Twitter apa yang sedang kami liput di Tapanuli.

Tulis komentar anda

XHTML Format teks jika perlu <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tulis komentar hanya terkait berita. KETENTUAN OPINI PEMBACA.



Komentar Pembaca

  1. Saya setuju denga tulisan Pak Siahaan, tips tambahan dari saya:

    - Kalau kita baru pertama kali mengunjungi/membaca sebuah situs, mari dibaca/klik lebih dahulu About, (tentang siapa penulis situs tersebut.) Kalau informasi tentng pengelola situs tersebut tidak jelas, berarti kurang bertanggung jawab.

    - Kalau membaca sebuah tulisan, simak baik-baik sampai selesai, jangan lansung menulis komentar, padahal hanya membaca judulnya (saya sering melihat komentar seperti ini.)

     — 
  2. Syalom’

    Terima kasih ” Koran Tapanuli Team ” atas email-emailnya.
    Kalau boleh ada robik aksara batak dan budaya batak yang khusus agar seperti saya yang tidak mengerti (bahkan masih banyak lagi) dapat sedikit mengerti sehingga jangan sampai punah .

     — 
More in Opini Redaksi (5 of 6 articles)