Selamatkan Da Vinci Code-nya orang Batak

Buku Laklak Batak

Nanti Sidabutar dan buku laklak kalender Batak.

Pustaha laklak adalah bukti sejarah bahwa sejak tempo doeloe orang Batak Toba telah mengenal budaya menulis. Pada masa agama-agama modern belum masuk ke Tanah Batak, sebelum kini kita mengenal peradaban ala Facebook, orang Batak telah menulis buku. Tapi buku orang Batak kala itu tentu saja belum ditulis di atas kertas temuan negara Cina atau dijilid dengan mesin cetak ciptaan Gutenberg.

KoranTapanuli.com | Tomok, Kabupaten Samosir | Berita Jarar Siahaan

Konon buku pertama halak hita adalah Pustaha Tumbaga Holing, kitab yang diturunkan oleh Si Raja Batak. Selanjutnya pustaha laklak, atau biasa disingkat laklak, ditulis oleh kalangan dukun.

Mereka menulis kitab-kitab hadatuon untuk keperluan ilmu nujum atau pengobatan penyakit-penyakit. Laklak asli buatan datu di masa lalu ditulis dalam aksara Batak, bukan huruf Latin seperti yang sekarang bisa ditemukan di toko-toko suvenir di Tomok, Kabupaten Samosir. Namun banyak juga pustaha hadatuon yang ditulis dengan simbol-simbol atau gambar, dengan maksud supaya tidak semua orang memahaminya. Rahasia yang tercatat lewat gambar itu biasanya berupa formula ramuan khusus dan tabas atau mantra sang dukun.

Nanti Sidabutar (46) alias Amani Maria, seorang penulis laklak di Dusun Siharbangan, Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, mengakui bahwa dulu pustaha laklak ditulis untuk keperluan perdukunan. “Dulu isi laklak adalah hadatuon. Tapi penulisnya tidak mencatat semua ilmunya dengan aksara Batak yang biasa, sering ada kode-kode atau tulisan yang sulit dipahami. Makanya sekarang sulit mempelajari ilmu hadatuon,” katanya saat ditemui Koran Tapanuli suatu ketika di rumahnya.

Dia bersama pejabat pemerintah dari Jakarta pernah mengunjungi museum di Medan dan Jakarta untuk meneliti pustaha laklak. Dari hampir semua laklak karya orang Batak tempo doeloe yang disimpan di museum, isinya adalah ilmu perdukunan.

Laklak zaman sekarang dibuat oleh seniman dan pengrajin seperti Nanti untuk dijual sebagai suvenir bagi turis, atau berdasarkan pesanan orang-orang tertentu seperti pejabat pemerintah. Tulisan yang ditorehkan pada laklak pun bukan lagi tabas-tabas hadatuon, melainkan umpasa dan kalender Batak.

“Ada juga yang memesan dituliskan silsilah keluarganya, atau doa Ale Amanami.”

Jika dahulu laklak ditulis memakai tinta olahan sendiri, sekarang dengan tinta India atau tinta pulpen Parker. Namun mediumnya tetap sama, yaitu laklak.

Seperti namanya, laklak terbuat dari kulit kayu, tapi bukan sembarang kayu. Laklak terbaik yang biasa dipakai pengrajin adalah dari pohon jenis hau alim, karena gampang ditulisi dengan tinta dan usianya bertahan hingga ratusan tahun.

Sudah tujuh tahun belakangan ini Nanti Sidabutar tidak lagi menulis laklak. Buku laklak terakhir yang diatulis adalah pada tahun 2003. “Sekarang hampir tidak ada lagi yang aktif menulis laklak di Samosir,” katanya.

Dia kemudian mengambil satu buku laklak mini yang sudah berdebu, yang isinya antara lain kalender Batak, yang dikerjakannya beberapa tahun silam.

Menurutnya, dulu penulis laklak di Kabupaten Samosir ada sekitar 10 orang. Kalaupun saat ini di kios-kios suvenir di Tomok masih dijual buku-buku laklak, itu adalah stok lama.

Pengrajin laklak di Samosir kesulitan memperoleh bahan kulit kayu. Hau alim dari hutan-hutan di Kabupaten Dairi, Asahan, dan Simalungun sudah jarang didapat.

Pustaha laklak asli besutan datu berwarna cokelat dengan tulisan aksara Batak kuno, simbol-simbol, dan rahasia ilmu perdukunan. Lembarannya bisa dibuka sampai bermeter-meter panjangnya. Wujud laklak tampak mirip dengan lembaran Da Vinci Code yang berisi pesan-pesan misterius dalam kode kriptografi.

Kabarnya seribuan laklak-Batak asli masih tersimpan rapi di museum di Jerman dan Belanda.

Dengan visi-misi utama di bidang pariwisata, Pemerintah Kabupaten Samosir perlu melakukan upaya sungguh-sungguh untuk menyelamatkan pustaha laklak dari kepunahan, setidaknya agar penulis laklak bisa meneruskan ilmu menulis laklak kepada anak-cucunya seperti dahulu diperoleh Sidabutar dari orangtuanya. “Memang sudah mulai punah,” katanya. (Arsip berita KoranTapanuli.com.)

Klik Share atau Tweet untuk berbagi di akun sosial anda
Hak cipta ©2012 KoranTapanuli.com. Berita ini hanya dapat dikutip ke media cetak, radio, blog, dll., dengan tautan-balik/penyebutan sumber (baca ketentuan). Ikuti via Twitter apa yang sedang kami liput di Tapanuli.

Tulis komentar anda

XHTML Format teks jika perlu <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tulis komentar hanya terkait berita. KETENTUAN OPINI PEMBACA.



Komentar Pembaca

  1. sayang kalau sampai punah ..

     — 
  2. wah perlu dilestarikan tuh…salah satu warisan budaya leluhur

     — 
More in Berita Feature (10 of 15 articles)