Tuak Amani Padot di Hinalang, telepon dulu

Tuak Hinalang Balige

Amani Padot

Amani Padot, siapa yang tidak kenal dengan nama yang satu ini di Kabupaten Toba Samosir. Bila dia adalah seorang peminum tuak, khususnya di Kecamatan Laguboti, Balige, Tampahan, atau Kecamatan Porsea, pasti kenal dengan nama ini.

Amani Padot adalah pemilik lapo tuak di Desa Hinalang, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir. Jarak laponya sekitar lebih kurang 4 km dari pusat kota Balige. Tetapi dari Laguboti juga banyak yang khusus datang minum ke lapo tersebut.

Lokasi lapo ini sebenarnya tidaklah strategis, areal parkir pun cukup sempit, suasana lapo ini juga tidak begitu megah. Dinding papan hampir lapuk dan berlobang-lobang. Lokasi ruangan lapo ini pun tidak begitu luas, hanya berkisar 7 x 6 meter, berisi 3 buah meja ukuran panjang sekitar 6 meter, 2 meter dan 3 meter. Di ruang belakang ada juga 1 buah meja dengan ukuran sekitar 2 meter. Tetapi tidak mengurangi semangat para parmitu datang ke lapo ini.

Amani Padot bukanlah nama sebenarnya, nama aslinya adalah Pantas Silalahi, dengan nama panggoaran adalah Amani Parlaungan. Parlaungan merupakan anak pertamanya. Dia diberi gelar Amani Padot oleh para langganannya karena dia memang padot.

Dia tidak banyak bicara, tetapi menunjukkan sikap ramah. Isterinya Boru Sianturi juga mampu mengimbangi sikap suami dengan memberikan pelayanan ramah terhadap para pelanggan.

Esron Sianipar, warga Desa Lumbansilintong, Kecamatan Balige, seorang kontraktor dan politikus, adalah merupakan salah satu pelanggan setia lapo tuak Amani Padot.

Amani Padot cukup telaten meladeni para pelanggannya. Dia punya catatan khusus bagi para pemesan tuak. Dia sudah mempersiapkan hpnya bila pemesan menghubunginya. Jadi dia berusaha agar para pelanggannya tetap kebagian tuak.

Tuak yang paling mahal di Kabupaten Tobasa adalah di lapo ini. Rata-rata harga tuak di lapo lainnya sekitar Rp 1.500 atau Rp 2 ribu per gelas. Tetapi di lapo ini harga tuak mencapai Rp 3 ribu, itu pun sulit didapat.

Bila kita minum tuak tanpa pesan terlebih dahulu, maka kita tidak bakalan dapat jatah. Amani Padot hanya dapat memberikan satu gelas untuk menghargai pelanggan. Bila anda hendak minum di lapo ini, maka sebaiknya terlebih dahulu dipesankan kepada Amani Padot. Jangan dicoba memesan lebih dari 20 gelas, pasti tidak dapat, karena stok tuak memang sudah merupakan pesanan langganan.

Di lapo ini sudah ada istilah pelanggan tetap. Menurut Amani Padot, pelanggan ini tidak bisa ditawar-tawar, pokoknya sudah disediakan, datang atau tidak, tuak tersebut sudah masuk tanggung jawab pelanggan, dia harus membayar.

Para pelanggan tetap biasanya cukup bijak. Dia lalu mendaftar ke Amani Padot agar diposisikan menjadi pelanggan tetap, maka jatah per harinya sudah dipersiapkan. Tetapi bila dia berhalangan, maka dia akan mengontak teman-temannya yang lagi minum agar tuak pesanannya diberikan kepada kawannya. Bagi Amani Padot, hal itu tidak menjadi masalah, yang penting sudah ditanggungjawabi si pemesan.

Para pelanggannya terdiri dari kalangan menengah ke atas. Dari kalangan bawah mungkin agak enggan, karena harga tuak cukup mahal. Pelanggan tersebut datang dari kalangan PNS, pengusaha, pejabat, politikus, wartawan, dan aktivis LSM. Seperti pengusaha Binter Jaya Musik, kontraktor Pijer Tambunan alias Kadin, Pati Simanjuntak, Esron Sianipar, Harry Hutagaol, Pamandur Simanjuntak, dan lain-lain.

Amani Padot kepada Koran Tapanuli mengatakan bahwa usaha ini sudah merupakan warisan turun-temurun dari ompungnya. Bapaknya saja sudah mengelola lapo ini sejak tahun 1950, dan ompungnya sebelum tahun tersebut.

Amani Padot termasuk pria yang sangat gigih. Dia tidak memilih-milih pekerjaan, jual kacang juga sudah dikerjakannya, bertani, beternak, dan lain-lain.

Ketika ditanya tentang gelar Amani Padot, dia menjawab bahwa sejak tahun 1987 gelar itu diberikan orang padanya. Dia tidak tahu apa alasannya secara pasti kenapa dia diberi gelar Amani Padot. Tetapi dia cukup senang dengan nama tersebut, karena memang sangat positif.

Amani Padot mengatakan bahwa dia tidak punya resep khusus soal tuaknya. “Kalau diresep, bukan tuak namanya,” katanya. Dia hanya memberi “raru”, kulit kayu yang biasa digunakan untuk pembuat rasa pahit.

(Arsip berita Koran Tapanuli, April 2011, oleh Tunggul Sianipar dari Hinalang, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa.)

Klik Share atau Tweet untuk berbagi di akun sosial anda
Hak cipta ©2012 KoranTapanuli.com. Berita ini hanya dapat dikutip ke media cetak, radio, blog, dll., dengan tautan-balik/penyebutan sumber (baca ketentuan). Ikuti via Twitter apa yang sedang kami liput di Tapanuli.

Tulis komentar anda

XHTML Format teks jika perlu <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Tulis komentar hanya terkait berita. KETENTUAN OPINI PEMBACA.



Komentar Pembaca

  1. Tusor.. Tusor.. memang asyik. mau coba mampir nanti ke lapo ama Padot bah….. :)

     — 
  2. terima kasih beritanya..

     — 
More in Kabupaten Toba Samosir (9 of 12 articles)