Artha senang uban Bupati Samosir tidak dicat
By
On 26 Januari 2012 At 23:42
Category : Kabupaten Samosir
Tags : Bupati, Mangindar Simbolon
Responses : 2 Comments

Bupati Samosir dan istri. Foto: Humas Pemkab
Perayaan ulang tahun ke-25 pernikahan Bupati Samosir Mangindar Simbolon dan Artha Sitinjak, ulang tahun perak 9 Juli 2010, dilaksanakan pada 10 Juli di rumah dinas Bupati Samosir. Menurut beberapa orang tim pemenangnya yang hadir dalam acara tersebut, keberhasilan Mangindar kembali terpilih sebagai bupati periode 2010-2015 menjadi kado ulang tahun terbesar untuk Mangindar dan Artha yang menikah 7 Juli 1985 yang dikaruniai tiga putra dan satu putri.
Berbagai kalangan masyarakat Kabupaten Samosir mengenal Bupati Mangindar Simbolon dari beberapa hal. Untuk kalangan pejabat Mangindar diakui seorang yang pintar dalam berpidato. Bahkan untuk tugas-tugas kepemerintahan ia lebih mampu menjelaskan tugas seorang kepala dinas daripada kepala dinas itu sendiri.
Sementara dari penampilan masyarakat Samosir sangat kenal ciri khas Bupati Mangindar Simbolon dari ubannya yang dianggap sejumlah kalangan sebagai kharisma. Artha Sitinjak, isteri Mangindar Simbolon, kepada wartawan Koran Tapanuli pernah mengatakan ia lebih senang apabila uban suaminya itu tidak dicat hitam.
“Saya suka dengan penampilan Bapak seperti itu,” katanya.
Koran Tapanuli: Bagaimana perasaan Ibu selama hampir lima tahun sebagai isteri Bupati dengan kesibukan sebagai ketua PKK, mendampingi suami dan juga sekaligus sebagai ibu rumah tangga?
Artha Sitinjak: Selama hampir lima tahun ya tidak ada masalah, baik sebagai ketua PKK, begitu juga dalam mendampingi Bapak untuk kegiatan-kegiatan tertentu seperti menghadiri undangan misalnya, baik di Samosir dan kadang juga di luar Samosir. Saya juga ibu rumah tangga sama seperti ibu-ibu lainnya. Sebagai ibu rumah tangga dan menjadi pelayan untuk suami, di tengah-tengah kesibukan apapun tidak mungkin lepas dari peranan seorang ibu.
Koran Tapanuli: Sebagai isteri pejabat, kira-kira seperti apa peranan ibu rumah tangga dalam keseharian ibu dan bapak, apakah ibu menyiapkan sendiri sarapan bapak sebelum ke kantor?
Artha Sitinjak: Oh ya, untuk bapak itu harus saya sediakan setiap pagi dan sarapan bersama bahkan juga memasak, tapi ada yang membantulah. Tapi untuk pakaian bapak itu harus saya siapkan setiap pagi ataupun saat akan berangkat ke luar kota.
Koran Tapanuli: Apakah juga hafal jenis pakaian dinas yang akan dipakai pak bupati setiap harinya ke kantor?
Artha Sitinjak: Ya, itu sudah pasti, saya hafal betul semua jenis pakaian yang akan dipakai Bapak ke kantor juga untuk acara-acara resmi kalau undangan misalnya. Dan sebelum jadi bupati, Bapak juga kan sudah kepala dinas, jadi sudah sejak dulu kalau soal pakaian dinas.
Koran Tapanuli: Menikah dengan Bapak itu tahun berapa?
Artha Sitinjak: Tahun 1985 dan bulan tujuh nanti tanggal 9 itu ulang tahun perak, genap 25 tahun pernikahan kami.
Koran Tapanuli: Ada satu hal tentang ciri khas Pak Bupati yang dikenal luas oleh masyarakat dan sering juga diperbincangkan, yaitu uban. Banyak yang berpendapat itu kharisma, ada juga yang mengatakan “siboan tua”. Apakah Ibu bersedia bercerita sedikit, sejak kapan dan bagaimana pendapat Ibu sendiri tentang uban Pak Mangindar Simbolon itu. Misalnya apakah Ibu pernah mengatakan supaya dicat atau sebaliknya Ibu justru melarang supaya jangan dicat?
Artha Sitinjak: Saya tidak pernah melarang karena memang bapak tidak pernah berencana mau mencat rambut. Tapi seandainya mau cat tentu saya tidak mengijinkan. Karena menurut saya Bapak bagus dengan penampilan seperti itu. Kalau dikatakan itu kharisma atau siboan tua, itu saya kurang mengerti. Tapi yang saya lihat bapak lebih berwibawa, kira-kira begitu, dibandingkan ketika dulu sebelum ada uban. Dan soal itu sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa. Cuma karena kelihatan lebih bagus saja begitu. Tapi memang ada ceritanya saat awalnya bapak mulai ada uban. Bapak pernah mengalami beban pikiran sedikit agak serius. Saat anak saya masuk rumah sakit karena terjatuh main-main pagar di rumah di Rianiate terus lukanya agak serius. Saat itu Bapak menjabat kepala dinas di Pangururan. Sebenarnya tidak terlalu parah hanya sempat diopname. Tapi ya namanya orang tua, bapak begitu sayang sama anaknya. Sehingga pikirannya seperti terbeban dan saat itulah saya melihat bapak mulai ada uban. Dan prosesnya tidak terlalu lama sampai kondisi seperti yang sekarang, tapi tidak bertambah. Dari dulu sejak mulai ada uban itu tetap begitu. Setelah bapak tegar kembali, semula saya juga sempat menduga uban bapak akan bertambah, ternyata tidak. Kemudian banyak pendapat dari teman bahkan keluarga, Bapak justru tampak bagus dengan penampilan ada ubannya sedikit.
Koran Tapanuli: Kalau Bapak terpilih dan menjabat selama lima tahun ke depan, setelah itu kan tidak lagi mencalonkan, apakah ibu pernah terpikir supaya Bapak mencalonkan menjadi gubernur?
Artha Sitinjak: Kalau berpikir untuk mejadi calon gubernur, ya memang pernah juga terpikir. Bahkan pernah juga ada yang mengajak untuk mengarah ke sana. Tapi saya dan Bapak sepakat masih sangat perlu untuk membangun Kabupaten Samosir. Tapi kalau seperti yang Ito katakan misalnya setelah melalui dua periode, mudah-mudahan berhasil. Itu melihat nanti, kan masih lama dan juga tergantung pada Bapak.
(Arsip berita Hayun Gultom dari Pangururan, Kabupaten Samosir.)
| Tweet |







Melihat kegagalan pembangunan di Samosir Saya mendengar yang menjadi bupati sebenarnya adalah isterinya bupati, pak mangindar itu hanya boneka isterinya.
Padahal banyak orang berusaha tidak ubanan, atau ubannya dicat. tapi ini justru membawa kesan wibawa. Eh…luar biasa, uban bupati samosir.